ada apa di hari sabtu?

kali ini aku menyesal karena tak membawa kamera selama 25 menit di sabtu (15 oktober 2016), ya karena ini hanya pengalaman sekali dalam seminggu. mulanya aku mengumpulkan niat untuk mengisi energi dengan perantara nasi goreng masakan ibuku ditambah dengan sosis yang digoreng kemerah-merahan seperti rona pipi wanita yang tersipu malu. pagi ini kusempatkan selama 30 menit untuk mendedikasikan diriku dengan alam di desa, karena hanya sekali dalam seminggu aku bisa menghirup udara segar yang ada di sini.

sepeda fixie biru putih berusia 6 tahun yang sudah kupersiapkan terlebih dahulu mulai dari tekanan angin hingga ketinggian sadel agar nyaman ketika di perjalanan. ya mulai saja pertama aku berkelana di halaman belakang rumah, di sana ada hamparan sawah yang aku berambisi untuk mengakuisisi di masa depan kelak haha, abaikan dan perlahan akuisisi satu per satu. hanya bersama fixie kami menyelusuri jalan sepanjang +-2Km untuk sampai di ujung dan melihat pemandangan sungai yang jarang kutemukan, konon katanya, ketika aku masih kecil sering dihebohkan kalau sungai itu terdapat buaya dan ular besar, tapi apa lah. beruntung sampai sekarang aku tak menemukan ular dan buaya itu haha, walaupun ketika aku menemukan, mungkin hanya ada 2 pilihan, lari dengan secepat mungkin atau bersepeda sekencang mungkin haha, tak kubayangkan ketika membayangkannya. hah kalau tidak begitu mungkin aku sudah bersama dengan asam lambung mereka :v tapi abaikan, semoga tidak terjadi karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya menikah hmm.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gambar dari internet

dan aku menyesal karena ketika kembali, ada satu pemandangan yang menarik. hamparan sawah yang sudah dipanen memberikan pantulan bayanganku dengan si fixie. ah tapi aku tak membawa kamera huhuhu. tapi biarlah ada satu pengalaman asik yang kudapatkan di sabtu pagi ini. dan memang jarang-jarang terjadi haa. kualihkan rasa menyesalku dengan mengganti haluan kemudi fixie ku menuju suatu jalan sawah di desa balongan dan mambang, di sana kutemukan banyak orang yang masih menggunakan alat tradisional dalam bertani, padahal di dalam pikiranku aku sedang mengembangkan sebuah alat pertanian modern agar bisa meningkatkan produktifiktas petani. ujar benakku.

kulalui jalanan bermedia tanah hingga berganti kampung bernama sumokembangsri atau sumotuwo, dan jalan yang dulunya aspal berlubang kini ternyata sudah berganti menjadi aspal baru mulus… ah… nikmatnya. bersama dengan hamparan sawah di kiri dan kananku aku mulai melepaskan kedua tangan dari kemudi fixie ku. dan iya. aku hanya mengatakan “it just a balance” untuk menjaga keseimbangan karena aku bersepeda tanpa menyentuh kemudi, aah jarang sekali kurasakan sejak SMP aku bersepeda dengan cara ini menuju sekolah dulu. terasa nostalgia dan teringat 2 teman masa SMP yang berjuang bersepeda bersama, entah dimana mereka sekarang.

fixie

Kampung demi kampung kulalui, mulai dari balongan, mambang, sumokembangsri, ndelik, wonokupang,nggirang, janti dan pada ujungnya aku sampai di balongan lagi aah selamat..! ketika di ndelik hingga nggirang kulalui jalan berupa paving yang aah.. lumayan mengocok isi tubuhku dan kurasakan “suduken” ketika mengayuh (-_-) cobaan apa ini… tapi aku yakin, kalau di setiap usaha tidak ada yang mulus, pasti selalu ada kendala dan hambatan salah satunya “suduken” dan neraka ini berakhir ketika menuju janti dan balongan. dengan peradaban yang lebih maju daripada kampung sebelumnya :v kedua kampung ini memiliki jalan yang sangat mulus, berasa naik kereta maglev dan tidak ada getaran sama sekali alias Zero friction haha, kusempatkan menengok sekolah ku dulu ketika SMA, dan iya. hijaunya warna tembok mengingatkanku bagaimana rasanya sekolah ketika di sana, ah guru-guru yang sangat menginspirasiku, teman-teman yang sangat mensupportku dan ada satu orang spesial yang kutemukan sejak kelas X namun mulai berani kuungkapkan pada akhir kelas XI, ah terlalu lama mengamati haha. masa sekolah yang sudah tidak akan bisa terulang lagi, kalaupun bisa mungkin aku sudah berstatus sebagai tamu atau alumni, dan aku sudah tidak bisa merasakan  bagaimana rasanya duduk di deretan kedua bersama ariyanto, mengilhami dan mencerna setiap mata pelajaran dari pengajar yang hebat, teman yang kompak, ah banyak lagi yang tak bisa kuceritakan karena aku hanya bisa mengalaminya saja semasa 3 tahun yang berharga bersama keluarga “SMAN 1 TARIK” dan kenangan itu masih ada, lalu kualihkan haluan dengan mengayuh fixie ku menuju tempat peristirahatan lagi, dan sesampainya di sana aku mengakhiri cerita yang kualami selama 25 menit ini.

#semua gambar kuambil dari internet karena kesalanku tak membawa kamera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s